Oleh: Wenti Zakiah
Malam ini saya bersama keluarga tercinta nobar, awalnya kita nonton INDONESIA MENCARI BAKAT di TRANS TV.. heeemmm bagus-bagus ya bakatnya? Patut di beri tombol hijau, apalagi yang namanya Putri Ayu; bakatnya adalah penyanyi seriousa padahal umurnya baru 12 tahun dan dia menyanyikan lagu barat gitu n’ bla… bla… bla… acara ini habis, chanel tv pun berpindah alih ke INDOSIAR acara TAKE ME OUT tapi ga lama kemudian chanelnya saya ganti lagi ke GLOBAL TV acara ROSSY, wah… wah…wah… kali ini membahas tentang anak-anak autis, salah satu anak autis bernama Ayman Muhammad membacakan Ayat Suci Al-Qur’an; QS.Lukman: 13-14, adik ini sekolah di Al-Azhar dan dia selalu meraih peringkat 10 besar di kelasnya. Ayman Muhammad pernah meraih juara lomba adzan nasional & lomba mtq nasional.
Penuturan Ayahanda Ayman Muhammad: “ sungguh suatu kebanggan karena ini adalah anugerah terindah dari Allah yang luar biasa dan saat ini kita sedang di kelilingi malaikat-malaikat kecil “. Beliau juga berbagi keluh kesah tentang cerita pahit Ayman Muhammad “Ya… menjadikan anak saya seperti ini butuh perjuangan yang besar, kesabaran tanpa batas karena banyak rintangan-rintangan yang saya dan keluarga rasakan, salah satunya sekolah al-azhar itu adalah sekolah anak normal dan Ayman Muhammad sempat di demo oleh orang tua wali murid satu sekolahan dengan alasan mereka tidak terima jika anaknya disamakan oleh anak autis dan tidak suka kalau di sekolah tersebut ada anak autis”.
Pesan moral yang saya tangkap:
1. Jangan pernah memandang orang dari sisi; kekurangan, kondisi ekonomi (kelas ekonomi), fisik. Tetapi pandanglah orang tersebut dari sisi kelebihan yang terdapat pada dirinya, sesungguhnya Allah itu Maha Adil
2. Bagi kita yang di berikan mata sempurna sepasang, telinga sempurna sepasang, suara yang merdu, seperangkat mulut, dua lubang hidung, sepuluh jari tangan, sepuluh jari kaki. Mengapa terkadang begitu ANGKUH dengan lingkungan sekitar dan kurang mensyukuri nikmat yang telah di tentukan olehNya, jika untuk amal di perhitungkan sedemikian rupa tetapi untuk hal-hal yang bersifat duniawi: HEBOHNYA SETENGAH MATI, kalau seperti ini namanya apa ya? MANUSIA apa HEWAN?
Asal kamu tahu? Mereka penyandang cacat.. sebenarnya juga tidak mau menerima kenyataan hidup pahit seperti ini!! Tapi apalah daya Allah berkata lain, mereka yang hidup di jalanan sebenarnya juga tidak mau menanggung beban hidup yang di alaminya saat ini!! Bukan malas bekerja tetapi apalah daya harta tak berpihak pada dirinya sehingga mereka tak mampu untuk sekolah dan mendapatkan pekerjaan yang layak
Ya… memang? Sekarang sekolah negeri yang gratis sudah mulai bertaburan, tetapi untuk masalah: baju seragam, uang saku sekolah, uang sewa buku paket. Siapa yang mau bayarin? Uang darimana?
Kita boleh tertawa hahahihihahahihi
Kita boleh bersenag-senang jalan-jalan
Kita boleh shoping untuk baju baru
Kita boleh makan mewah di restoran
Kita boleh nonton pergelaran-pergelaran dengan tiket mahal
SEHINGGA KITA PUAS DENGAN DUNIAWI! LUPA DENGAN ALAM YANG MENANTI KITA
Ya semua itu… memang hak asasi kita
Karena duit-duit kita, hasil dari gaji satu bulan
Ngeluarin keringet… pergi pagi pulang sore
Hasilnya hanya untuk kenikmatan sesaat!
Tapi apakah kamu tega?
Jika di luar sana ada yang menangis terseduh-seduh karena kesusahan!!
Tegakah kita??? Tegakah kita??? Tegakah kita???
Jika semua ini terjadi! Dimana otak kita?
Apa gunanya BHINEKA TUNGGAL IKA?
Maaf jika kata-kata saya terlalu lebay, matinya rasa lebay sama dengan SOMBONG. Karena dengan rasa lebay itu lah kita bisa menelaah suatu masalah lebih kritis sehingga dari sikap inilah kita berusaha untuk menjadi lebih baik lagi!!!
Yang tidak suka dengan note`saya, tolong abaikan saja jempol dan tanggapannya! Saya yakin pasti akan ada segelintir orang yang akan memberikan tanggapan untuk pembelaan diri karena manusia cenderung tidak suka di kritik. Lebih tepatnya senang di sanjung! Sudah lumrah kalau sifat manusia seperti ini, karena hanya Allah yang Maha Sempurna
Minggu, 28 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar